Selasa Pagi

Pada akhirnya, satu hal yang benar-benar kupelajari.

Bahwa kehilangan bukanlah soal kesiapan, namun kepastian.

Tidak butuh siap untuk kehilangan.

Apapun itu, kalau hilang, ya hilang.

Kapan saja.

Di mana saja.

Tanpa awalan maupun peringatan.

Pufff! Hilang…

 

Namun, persis seperti seruput kopi dari cangkir yang kuminum.

Tidak pernah benar-benar kuhabiskan. Masih ada yang tertinggal, masih ada sisa.

 

Sesekali rindu menyapa. Tak apa. Itu soal biasa, lama-lama juga terbiasa.

Kemudian, lupa.

Semoga.

Advertisements

Rabu Siang

“Kita tidak akan pernah benar-benar berhenti mencintai seseorang. Kita hanya belajar untuk hidup tanpa mereka.” Winna Effendi 

 

Tiap kali bersama, satu hal yang tidak ingin aku ketahui. Waktu. Satu yang mempertemukan dan memisahkan pula suatu saat nanti. Sebentar lagi, mungkin. Semakin lama, semakin sebentar lagi.

Padahal, aku ingin tetap.

Begini. Di sini.

Tetap tanpa tapi.

Tapi…

kita tahu, akan berakhir sunyi. 

Dan nanti, 

biarlah nanti.

Milik kita, ya saat ini. Itulah yang kuyakini berulang kali. 

Dalam hati.

Soal rindu…

Satu yang tidak ingin kuberitahu. Seperti yang pernah kukatakan, ” I feel it, but I can’t say it”. Karena semakin lama, kurasa ini bukan sekadar rindu untuk selalu ingin bertemu. But we’ve both known, there’s no future for us. Maka waktu untuk bertemu, segera, saat ini, selalu jadi yang ditunggu-tunggu.

But, I miss you. Once again, I miss you. 

 

Almost every good night means goodbye…
Aku takut.
Iya, segitu pesimisnya aku.

Maaf.

Kata yang ingin selalu kuucap.

Maaf, untuk semua pesimisku.
Maaf, sudah masuk dalam kehidupan, menjadi bagian, dan tenggelam di dalamnya.
Maaf, kutinggalkan jejakku, kenanganku, aku.
Maaf, untuk maafku.

One day, we’ll be laughing at our own memories about us.

And, thank you.

Terimakasih, karena selalu ada.
Terimakasih, karena telah membuatku merasa berharga.
Terimakasih, karena sudah menjadi kamu untuk aku.
 
Thank you for holding my hands, like you wanna do it forever.

 
And your arms, used to be my favorite place.

When you gently take me into your arms, all I need is asking for the time to stop.

 But,

 

One day, once again, all I’m gonna do…I’ll miss it all. I’ll miss you, like always. 

Kamis Pagi

Pertama, aku mau ucapin selamat buat mereka yang berhasil melewati yang namanya Long Distance Relationship. Selamat! Sekali lagi, selamat! Menurutku, hal-hal seperti ini perlu diapresiasi. Guys, LDR itu gak mudah. Sumpah. Apalagi buat orang kayak aku. Inget banget, dulu, aku pernah bilang ke beberapa teman-teman dekatku, yang intinya Aku adalah salah satu orang penentang segala macam hubungan jarak jauh. Mending putus daripada jauh.

But, karma does exist.

Apa? Karma gak ada? Awalnya aku juga termasuk ke dalam kelompok yang meragukannya. Tapi, sekarang justru jauh lebih baik mempercayainya daripada tidak. Mungkin, di suatu waktu di masa lalu, aku pernah melakukan suatu hal yang salah dan menyebabkan sekarang aku harus menelan bulat-bulat kata-kataku sendiri. Setidaknya dengan begitu, aku berusaha untuk menerima kenyataan dan pelan-pelan belajar. Belajar apa? Banyak. Terutama pelajaran hidup untuk mengerti diri sendiri dan untuk sabar. Sekali lagi aku bilang, buatku ini gak mudah.

But, this is life.

Di satu sisi, aku bisa aja berpegang teguh pada pendirianku untuk tidak mempercayai yang namanya hubungan jarak jauh dan memilih untuk mundur dari hubungan ini. Tapi, gak. Aku gak selemah itu dan gak setinggi itu juga keteguhanpendirianku. Gak segampang itu mengakhiri hubungan, apalagi memulai sesuatu yang baru nantinya.

And life goes on.

Di sini, sekarang, aku tidak akan menjelaskan alasan dibalik kenapa hubungan jarak jauh sebegitu sulitnya untukku. Gak. Dibayangin aja, bikin dada berat buat narik napas. Hhhhh. Tapiiii, aku masih harus bertahan beberapa saat lagi. Nah, sampai semua urusan hubungan jarak jauh ini selesai, aku harus tetap hidup. Hidup secara normal. Normal kayak orang-orang di luar sana.

Minggu Sore

Suatu hari dipertengahan bulan Mei, seseorang bertanya padaku mengenai arti dari “pernikahan”.

Pada detik itu dan detik detik selanjutnya, sia-sia. Karena aku sama sekali gatau harus jawab apaaaa hahaha

Sumpah, bingung banget harus jawab apa! Alhasil, aku cuma bisa cengangas cengenges.

PARAHNYAAA, AKU MIKIRIN ITU SEHARIAN!

Di otakku, BISA-BISANYA SEORANG PEREMPUAN GAK TAU HARUS JAWAB APA KETIKA DITANYA SOAL ARTI DARI PERNIKAHAN!

Sedetik, aku merasa belum menjadi perempuan sesungguhnya (cry)

Tapi setelah aku merenung, merenung, dan merenung lagi, aku sampai dititik “Tuhan memberikanku secercah harapan”

Selama ini, kalau ada teman yang menikah, aku senang :3

Di otakku, EH GILA, DIA SIAP DAH!

Tapi, setelah itu aku mikir lagi, “siap apaan?” hahaha

Etapi ini serius.

Buat aku, kalau nikah itu adalah akad dan resepsi, semua itu hanya sekedar ritual. Akad merupakan ritual yang sakral, penting banget sih buat pernikahan (yaiyalah, gak akad, kan, gak nikah)

Setelah itu resepsi. Semeriah mungkin. Gakdeeeng, seberkesan mungkin 🙂

Kemudian, melanjutkan hidup.

Nah! Itu dia! Pernikahan itu, ya, kehidupan kita.

Suatu saat kita bahagia, di saat yang lain susah sesusah susahnya (jangan sampe, Ya Allah)

Hmm, gimana ya bilangnya?

Gini, gini, apa yang menjadi harapan kita dalam hidup, sebenernya itu juga yang kita harapkan dalam pernikahan kita. Ya karena pernikahan itu merupakan kehidupan. (makin bingung gak? Hahahaha)

Kita berharap hidup kita menjadi lebih baik, bersifat progresif, berorientasi masa depan. Nah, buat orang nikah, gitu juga, kan? Emang ada orang nikah mau menjadi lebih buruk, bersifat regresif, berorientasi masa lalu? (cetek banget gak sih ini T.T)

Jadi buat aku, pernikahan itu, ya, pernikahan! HAHAHA

Toh intinya, KITA HARUS TETAP BERTAHAN HIDUP! Hahaha (ketawa lagi)

Yang bikin spesial, jalaninnya gak lagi “aku”, tapi “kita”. ciieee :3

Oya, terima kasih, loh, pertanyaannya menginspirasi 🙂

Hikmah yang dapat diambil: inspirasi bisa datang dari mana saja, siapa saja, kapan saja.

Tulisan di atas hanya merupakan hasil dari pikiran otak penulis. Jika berbeda pikiran, ya, gapapa, kan kita beda otak 🙂

Rabu Pagi

Haloooo ^.~
UDAH LAMA BANGET GAK NULIS DI BLOG HAHAHA.
Lama sekali rasanya gak pernah nulis lagi di blog. Eh, boro-boro di blog, udah lama gak nulis lagi itu lebih tepatnya (selain skripsi yhaaa!)
Rabu pagi ini, aku putusin buat nulis lagi. Sebenernya ini keresahan yang udah lumayan lama sih, cuma gak tau kenapa pagi ini gatel banget buat diungkapin (haha)

Hmm, jadi gini, belakangan ini karena udah jarang banget ke kampus, jadi setiap pagi aku selalu ada di rumah. Itu artinya, ketika kegiatan di TK juga sedang berlangsung (iya, di rumah aku ada TK, masuk jam 8 pulang jam 10). Dan aku hampir tau semua kegiatan mereka, lagu yang mereka nyanyin, waktu mereka main, hampir semua deh pokoknya.

Nah, ini hal yang bikin aku resah sampe gatel mau diungkapin (haha)
Jadi, ada lagu anak- anak TK itu yang kurang lebih gini liriknya:
🎶”… yang banyak dosanya di dalam neraka”🎶
Lhaaaa?
Eh, gini, liriknya gak salah. Bener, kok. Ya, kan? Bener, kan? Kalo banyak dosa, ya, masuk neraka. TAPI MASALAHNYAAAA, they’re still 5 yo!
Nih ya, dari pada mereka dikenalin konsep dosa terus masuk neraka, diumur mereka yang masih 4 tahun itu, baru 4 tahun hidup di dunia, belom dosa juga kalo mereka ngapain-ngapain 😂
Mendiiiing, dikenalin konsep perbuatan baik itu yang seperti apa, perbuatan yang gak baik itu seperti apa. Terlepas dari urusan pahala dan dosa. Toh, diusia mereka lagi masanya untuk mau tau segala hal, coba segala hal. Kita sebagai orang dewasa, tugasnya ya mendampingi. Jawab kalo mereka nanya, kasih tau yang bener kalo mereka salah.

Jangan sampe nih, ya, jangan sampeee aja pokoknya. Konsep pahala dan dosa juga surga neraka justru jadi bahan untuk nakut-nakutin mereka.
“ntar dosa looooh”
“ntar masuk neraka looooh”
Mereka loh, masih kecil loh, masih main yang ada dipikirannya looooh.
Awas aja pokoknya kalo ada yang begitu! Hmm..